Manusia Biasa

March 24, 2006

Menikmati Kota Palu (1)

Filed under: Perjalanan

Bulan kemarin mungkin gak kebayang kalo aku bisa nyampe Pulau Sulawesi (Celebes), apalagi ke kota yang dibilang orang kota yang rusuh, panas, dan seabrek sebutan lainnya.Tanggal 3 Februari setelah ditelpon Pak Tri, alumni UGM juga, yang mengharuskan aku segera ke Palu pada hari itu juga (karena sabtunya merupakan acaranya), dengan berpikir cepat karena ini merupakan kesempatan langka (apa sih keperluannya???ssst….edisi berikutnya jawabannya). Dari Jogja aku harus cross cek pesawat yang bisa nyampe ke ibukota Sulawasi Tengah itu . Akhirnya setelah mondar-mandir di Adisucipto, kuperoleh Batavia, berangkat jam 12.00 ke Surabaya, dan Lion jam 17.00 dari Juanda. Dengan bekal seadanya akhirnya kutinggalkan Jogja tanpa sempat bilang ke ortu. Dengan tekat membara sampe juga di Surabaya jam 13.00, lumayan lama sih nunggu berangkat pesawat berikutnya.

Sambil menunggu jam, karena kelaperan..maklum paginya gak sarapan, mampir ke sebuah ”warung soto” yang ada di airport. Enak juga soto Lamongan yang satu porsi seharga 18 ribu..sambil menunggu check in obrol ma ibu-ibu Madura yang mo ke Banjarmasin yang dianter putri kesayangannya. Gak kerasa jam 16.00 aku akhirnya antre check in, lumayan banyak juga penumpang yang kesana.

Peta Sulawesi dan Kota Palu

Setelah masuk, ternyata keberangkatan mundur,karena hujan mengguyur Juanda (selang 2 hari denger berita kalo air sampe masuk ke komplek pertokoan). Ya gak papalah…..sambil menikmati sebotol Aqua yang kubawa dan obrol ma bapak2 dari Solo. Tepat pukul 18.30, akhirnya kita diperbolehkan naik pesawat, dan setelah beberapa saat aku dah berada di angkasa (maklum hari itu penerbanganku perdana…).Pukul 23.00 WITA, tiba juga di Bandara Mutiara Palu, setelah beberapa langkah terdengar namaku dipanggil…..he..he…lumayan ternyata dah ada yang jemput. Aku di jemput sama Irman dan Irham (kenalan saat itu juga, mereka Adiknya Pak Jastal- ini orang yang ada kaitan dengan keperluanku). Sambil diboncengin motor kuliat suasan Kota Palu malam itu, lumayan sepi maklum dah jam 11 malem. Dengan tubuh capek dan BB, sampe juga di rumah Pak Jastal tempat aku inap selama 9 hari,..bruk…akhirnya bisa berbaring tubuh ini…sebelum tidur sempat mikir juga kok bisa-bisanya aku nyampe sini……sempat netes air mata juga….sih….gak kebayang sebelumnya…..hari itu dapat info trus bisa cabut ke kota ini….berpikir cuma 30 menit sebelum kuputuskan berangkat.

Paginya….ternyata di situ telah datang temen juga dari UGM, si Anis anak Biologi, yang asalnya dari Boyolali, then….kenalan juga ma Pak Jastal dan Ibu. Setelah beberapa saat prepare , kita berangkat bareng-bareng ke ”acaranya”. Acaranya sih Cuma sebentar sampe jam 12 siang, tapi seminggu berikutnya masih ada acara lagi…”Ya, Allah, padahal perbekalanku sebenarnya cuma untuk beberapa hari saja,…tapi gak papalah, cowokkan fleksibel”, belaku…Sambil menunggu sabtu berikutnya hari-hari disana begitu lama banget, maklum baru sekali jauh dari lingkungan biasanya dan yang boring gak napa-napa.

Mencoba Adaptasi

Aku tinggal di lingkungan perumahan yang kebanyakan orang-orang Bugis (Sulawesi Selatan). Sambil mencoba bergaul dengan lingkungan keluarga pak Jastal dan juga sebelahnya, maklum 9 hari lumayan lama juga. Ada istilah yang beda dalam bahasa Bugis, misalnya kalo penyebutan ”kamu”, mereka malah menyebut ”kita”. Contoh : ” Kamu mau pergi kemana ?”, kalo orang-orang Bugis menyebutnya ” Kita mau kemana ?”
Contoh lain, penyebutan ”kita” menjadi ”torang”, dan ”mereka” menjadi ”dorang”.

Penduduk di kota ini relatif heterogen juga. Orang-orang dari Manado, Bugis, Jawa, Bali bersatu dengan penduduk Khaili, suku asli Palu. Kalau waktu sore kebanykan pada main takraw, ketika aku ditawari main sempet menendang bolanya tok, habis itu gak bisa napa-napa lagi. Ketika main-main keluar rumah, di sebelah kanan depan rumah, aku terkejut dengan sekelompok orang yang memperbaiki mobil. Terkejutnya dengan mobil Honda karena berplat nomor AB, lha inikan mobil Jogja, kok sampe disini juga..pikirku…? Akhirnya aku kenalan dengan mereka. Sang pemilik adalah Pak Imam, seorang anggota Polda Sulteng yang aslinya orang Kebumen, sudah mengabdi selama 8 tahun disana, sedangkan yang lainnya adalah perantoan juga, rata-rata juga dari Jawa. Akhirnya obrol deh dengan bahasa kebangsaan Jawa, kayak serasa di kampung sendiri.

March 17, 2006

Mencoba Blog yang Usang

Filed under: Uncategorized

Sebenarnya Manuasia Biasa ini sudah lumayan lama terbuat, tetapi karena kemalesan dan kebodohan pembuat yang minim tentang blog jadinya lama gitu. Jadinya yang seharusnya tiap saat ada News yang update jadinya gak ada sama sekali

Ya semoga saja selanjutnya bisa ter-update lagi

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main