Manusia Biasa

April 11, 2006

Cinta dan Perkawinan

Filed under: Love

Sebuah Perenungan:

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya,
“Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana.
Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali,
kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap
paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).

Sebenarnya aku telah menemukan
yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.

Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting - ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi,
jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya

“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,
“Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana.
Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh)
dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja.

Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang
paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.

Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.

Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“
Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.
Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat
dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.
Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.
Adalah proses mendapatkan kesempatan,
ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya,

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan
perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Menikmati Kota Palu (2)

Filed under: Perjalanan

Beberapa hari di kota Palu, memang masih terasa asing. Tiap hari gak kemana-mana paling-paling lihat TV yang notabene disana kebanyakan memakai antenna Parabola, dan juga sms-an ma ”my future” yang di Jogja. Oh ya suatu saat habis obrol ma Anis, aku teringet adik angkatan yang kayaknya dia asalnya dari Sulawesi juga, tapi gak tau Sulawesinya mana. Tak inget-inget sambil berburu nomor HP dia, ternyata dia asalnya dari Palu, namanya Endang Sulistyowati (Namanya n’Jawa banget kan…). Ya udah akhirnya aku kontak dia,…ternyata dia dah balik di Palu juga…..dulu wisuda bareng aku sih…..Akhirnya kita sepakat bisa ketemuan n main bareng-bareng sama Irman, Anis dan dia sendiri.

Mulai Jalan – Jalan
Menikmati Palu pada malam hari belum pernah kurasakan, suatu saat ada tawaran main dari Pak Jastal, akhirnya malem-malem gitu keluar sambil liat-liat suasana malem. Lumayan ramai juga sih angkutan sampai jam 22. oh…ya disana tidak ada Bus, adanya angkutan kecil, yang orang sana menyebutnya taksi, sedangkan taksi yang biasa di Jawa dinamakan taksi argo. Malem itu sih kayaknya bukan malem libur tetapi jalan tetep ramai juga, sambil liat-liat pusat perbelanjaan yang ada, akhirnya kita pergi ke pantai yaitu di Pantai Teluk Palu. Keramaian yang ada tidak kalah dengan yang di pusat kota. Di tempat ini kebanyakan pada beristirahat sambil menikmati aneka makanan seperti jagung bakar, maupun roti bakar, dan aneka minuman yang ada.

Ketika pesan jagung bakar, ternyata penjualnya dari Jawa, akhirnya aku pun meluncurkan jurus bicara bahasa jawa kromo inggil, ternyata Ibu pedagang berasal dari Pati Jawa Tengah. Sambil menikmati jagung bakar kusempatkan melihat-lihat teluk yang malem itu lumayan ramai juga dengan orang-orang yang sekedar istirahat maupun menikmati makanan yang tersedia.

Tidak terasa enam hari sudah di Tanah Celebes, akhirnya setelah mencari waktu yang luang , Endang akhirnya bisa anter kita jalan-jalan…he..he..lumayan juga ada guide dadakan……tapi ternyata itu anak kayaknya juga belum terlalu tau betul tentang kotanya sendiri, maklumlah dia blasteran Jawa sama Bugis…
”Asal jalan-jalan ajalah..yang penting pernah muter-muter Palu…” pikirku. Ternyata bener, kita asal jalan aja….rencananya sih mau ke pantai, tapi siang-siang jam 11an gitu apa gak gila, sudah item bakalan tambah item ntar. Tempat yang dicari pertama sih tempet orang jualan souvenir, kita dapetin orang jualan berbagai kerajinan dari kayu hitam (Eboni). Ada kapal-kapalan, jam, kursi, gantungan kunci,kura-kuraan. Dua terakhir inilah yang kusuka. Akhirnya aku beli gantungan kunci dan kapal-kapalan, yang kura-kuraan gak cocok harganya padahal aku pingin banget (akhirnya lain hari kubeli juga)…Dan tau gak ternyata penjualnya….orang rantouan…orang Gunungkidul Yogyakarta.

Setelah souvenir kita dapat, kita melewati jalan yang membelah bukit, disitu tampak indah pemandangannya, bisa liat pantai, bukit, dan kotanya juga….lumayan kalo dibuat gardu pandang..lumayan juga diambil pic-nya.Tujuan berikutnya nyempetin ke kampus yaitu Universitas Tadulako, kampus yang lumayan luas tempet kuliahnya si Irman tapi kampusnya sendiri belum begitu ramai karena masih pada urus KRS…..

Makanan-makanan Palu
Hari semakin siang dan makin panas, rencana sih terus mau nyari oleh-oleh makanan,tetapi Endang malah ajak mampir ke rumah dulu. Rumahnya di daerah kota dekat jalan 2 jalur. Rumahnya memang agak beda dengan yang lain karena memakai atap genteng, yang lainnya kebanyakan memakai atap seng. Setelah beberapa saat akhirnya kenalan juga dengan orangtuanya. Ibu berasal dari Klaten, sedangkan bapaknya dari Makassar. Nah sewaktu ditempat Endang inilah kita dijamu dengan masakan khas Palu yaitu Kaledo’ ,masakan suku Khaili, yang dibuat dari tulang-tulang sapi (mirip thengkleng).
Ada anekdot tentang makanan ini. Di Palu kan ada orang Jawa, Makassar, dan Khaili sendiri. Orang Jawa kalo bangun rajin, pagi menjelang Subuh sudah pergi ke pasar membeli daging sapi dibuat Bakso. Maka di sana kebanyakan penjual bakso orang Jawa. Kemudian orang Makasar, anekdotnya orang Makasar ke pasar setelah sholat dulu,karena dagingnya telah terbeli,maka orang Makasar membeli hati,usus, dan jeroannya.Maka dibuatlah apa yang dinamakan Çoto Makasar. Nah, orang asli sana sendiri ke pasarnya siangan,jadilah tinggal tulang-tulang sapi, maka dibuat makanan yang kebayakan berisi bahan ini yang dinamakan Kaledo’.

Selain itu ada lagi makanan khas sana yaitu bawang goreng, bawang yang digoreng terasa renyah sekali, sempat beli dengan paket kecil-kecil seharga @ Rp. 5000. Bawang ini bentuknya seperti bawang merah, tapi ini khusus untuk digoreng.

Jalan-jalan seharian memang melelahkan juga, tapi gak apalah yang penting tujuan utama telah terselesaikan, akhirnya setelah akhir pekan pertengahan Februari, urusan juga dirasa cukup, kuputuskan untuk segera balik ke Jogja, dengan memajukan jadwal pesawat, sempet tarik ulur juga dengan agen orang Manado itu, karena kesalahan dia sendiri dalam membaca jadwalku.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main