Manusia Biasa

November 7, 2007

Geografi Berduka Selamat Jalan Rino…

Filed under: Perjalanan

Hari itu Senin siang kebetulan lagi ekskursi di LIPI Gatot Subroto, kucoba tuk mencoba YM ku, karena gak bisa juga…maksa lewat yahoo mail. Baru aja log in, langsung ada sapaan dari temen kuliah dulu di Geografi UGM, si Erda yang sekarang lagi kuliah di Hawaii USA, intinya dah denger berita belum?…

Aku sih kaget aja..berita apa lagi..dia bilang ada berita kecelakaan boat….Masya Allah, aku langsung kaget dengan kejadian setahun lebih yang lalu. Shohibku Hizwan Maryadi dan Indra bulan Agustus 2006 lalu..mengalami kecelakaan boat, waktu mau menuju Timika dari Asmat. Sampai sekarang keduanya belum ditemukan..

Nah..kemarin, Senin tanggal 5 November 2007, tiba-tiba si Erda nanyain tentang kecelakaan boat, tentu aku langsung berharap banyak tentang kabar..Hizwan dan Indra..palagi terus ditambah dengan kabar dari Thailand…Bener bener kaget jangan-jangan mereka terbawa sampai Thailand.
Namun harapan itu sirna, ketika dia bilang ada kecelakaan boat lagi yang membawa rombongan dosen Geografi UGM. Langsung saja..aku search di detik.com, kompas.com, pokoknya cari yang paling update. Tapi semuanya belum ada berita tentang musibah itu.

Akhirnya kucoba cari berita dari kampus, SMS mbak Andri langsung dibales….Innalillahi wa inna illaihi rajiun, temen sekaligus adik angkatan Rino Cahyadi di Geografi turut menjadi korban kecelakaan itu. Rino orangnya sangat alim, dia jadi ustadz di musholla..sering jadi khotib jum’atan.Olahraganya juga mantap, sering dulu main bareng bulutangkis dan juga tenis meja..Kalo inget - inget juga sekitar bulan-bulan Mei - Juni 2007 kemarin sempet chating bertiga..Aku di Palu, Rino di Belanda, dan Iswari (istrinya Rino) di Jogja…waktu itu Iswari masih mengandung anaknya yang sekarang dah umur 4 bulan. Benar-benar kuasa Allah…..

Ternyata kecelakaan yang menimpa Rino, bersama dosen-dosen juga yaitu, Pak Ratman, Pak Junun, dan Pak Langgeng
Ini ada email pak Junun ke Erda, hari senin itu :

Dear berikut sedikit cerita dari Pak Junun tentang peristiwa tragis di Thailand.

Terima kasih atas doanya. Kami berempat ke Bangkok (Pak Ratman, Saya, Pak Langgeng, dan Rino angkatan 2001). Saya ke sini dalam rangka mengenalkan Rino dengan teman-teman Jepang. Saya mengharapkan dia dapat melanjutkan PhDnya di Jepang. Lhaaaa…. Allah swt punya rencana lain untuk dia. Semoga dia khusnul khotimah. Sekarang kami bertiga lagi mengurus segala sesuatunya untuk memulangkan jenazahnya.
Saya mengalami kecelakaan perahu. Perahu menabarak konstruksi tiang pancang dan jebol, semua penumpang perahu cerai berai termasuk saya. Saya masih diberi umur panjang, walaupun saya tidak dapat berenang, tetapi saya termasuk orang pertama yang dapat posisi save dan sempat menolong beberapa kawan yang sedang glagepan. Tidak tahu apa yang terjadi pada saya, kok saya benar-benar dalam kondisi selamat. Bahkan saya belum sempat kepala saya tenggelam sedhetikpun padahal kondisi arus cukup deras. Pak Langgeng guru renang saya, malah saya yang menyeretnya ke tepian. Subhanallah! !!!!!!!!! !!!!….
Begitu ceritanya, panjang kalau tak ceritakan semua

Wass

Jnn

Benar-benar geografi UGM berduka lagi…Selamat jalan Rino Cahyadi…semoga amal kebaikanmu diterima Allah SWT, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Buat Geograf-Geograf yang lain..tetap maju terus..tetap semangat..

April 11, 2006

Menikmati Kota Palu (2)

Filed under: Perjalanan

Beberapa hari di kota Palu, memang masih terasa asing. Tiap hari gak kemana-mana paling-paling lihat TV yang notabene disana kebanyakan memakai antenna Parabola, dan juga sms-an ma ”my future” yang di Jogja. Oh ya suatu saat habis obrol ma Anis, aku teringet adik angkatan yang kayaknya dia asalnya dari Sulawesi juga, tapi gak tau Sulawesinya mana. Tak inget-inget sambil berburu nomor HP dia, ternyata dia asalnya dari Palu, namanya Endang Sulistyowati (Namanya n’Jawa banget kan…). Ya udah akhirnya aku kontak dia,…ternyata dia dah balik di Palu juga…..dulu wisuda bareng aku sih…..Akhirnya kita sepakat bisa ketemuan n main bareng-bareng sama Irman, Anis dan dia sendiri.

Mulai Jalan – Jalan
Menikmati Palu pada malam hari belum pernah kurasakan, suatu saat ada tawaran main dari Pak Jastal, akhirnya malem-malem gitu keluar sambil liat-liat suasana malem. Lumayan ramai juga sih angkutan sampai jam 22. oh…ya disana tidak ada Bus, adanya angkutan kecil, yang orang sana menyebutnya taksi, sedangkan taksi yang biasa di Jawa dinamakan taksi argo. Malem itu sih kayaknya bukan malem libur tetapi jalan tetep ramai juga, sambil liat-liat pusat perbelanjaan yang ada, akhirnya kita pergi ke pantai yaitu di Pantai Teluk Palu. Keramaian yang ada tidak kalah dengan yang di pusat kota. Di tempat ini kebanyakan pada beristirahat sambil menikmati aneka makanan seperti jagung bakar, maupun roti bakar, dan aneka minuman yang ada.

Ketika pesan jagung bakar, ternyata penjualnya dari Jawa, akhirnya aku pun meluncurkan jurus bicara bahasa jawa kromo inggil, ternyata Ibu pedagang berasal dari Pati Jawa Tengah. Sambil menikmati jagung bakar kusempatkan melihat-lihat teluk yang malem itu lumayan ramai juga dengan orang-orang yang sekedar istirahat maupun menikmati makanan yang tersedia.

Tidak terasa enam hari sudah di Tanah Celebes, akhirnya setelah mencari waktu yang luang , Endang akhirnya bisa anter kita jalan-jalan…he..he..lumayan juga ada guide dadakan……tapi ternyata itu anak kayaknya juga belum terlalu tau betul tentang kotanya sendiri, maklumlah dia blasteran Jawa sama Bugis…
”Asal jalan-jalan ajalah..yang penting pernah muter-muter Palu…” pikirku. Ternyata bener, kita asal jalan aja….rencananya sih mau ke pantai, tapi siang-siang jam 11an gitu apa gak gila, sudah item bakalan tambah item ntar. Tempat yang dicari pertama sih tempet orang jualan souvenir, kita dapetin orang jualan berbagai kerajinan dari kayu hitam (Eboni). Ada kapal-kapalan, jam, kursi, gantungan kunci,kura-kuraan. Dua terakhir inilah yang kusuka. Akhirnya aku beli gantungan kunci dan kapal-kapalan, yang kura-kuraan gak cocok harganya padahal aku pingin banget (akhirnya lain hari kubeli juga)…Dan tau gak ternyata penjualnya….orang rantouan…orang Gunungkidul Yogyakarta.

Setelah souvenir kita dapat, kita melewati jalan yang membelah bukit, disitu tampak indah pemandangannya, bisa liat pantai, bukit, dan kotanya juga….lumayan kalo dibuat gardu pandang..lumayan juga diambil pic-nya.Tujuan berikutnya nyempetin ke kampus yaitu Universitas Tadulako, kampus yang lumayan luas tempet kuliahnya si Irman tapi kampusnya sendiri belum begitu ramai karena masih pada urus KRS…..

Makanan-makanan Palu
Hari semakin siang dan makin panas, rencana sih terus mau nyari oleh-oleh makanan,tetapi Endang malah ajak mampir ke rumah dulu. Rumahnya di daerah kota dekat jalan 2 jalur. Rumahnya memang agak beda dengan yang lain karena memakai atap genteng, yang lainnya kebanyakan memakai atap seng. Setelah beberapa saat akhirnya kenalan juga dengan orangtuanya. Ibu berasal dari Klaten, sedangkan bapaknya dari Makassar. Nah sewaktu ditempat Endang inilah kita dijamu dengan masakan khas Palu yaitu Kaledo’ ,masakan suku Khaili, yang dibuat dari tulang-tulang sapi (mirip thengkleng).
Ada anekdot tentang makanan ini. Di Palu kan ada orang Jawa, Makassar, dan Khaili sendiri. Orang Jawa kalo bangun rajin, pagi menjelang Subuh sudah pergi ke pasar membeli daging sapi dibuat Bakso. Maka di sana kebanyakan penjual bakso orang Jawa. Kemudian orang Makasar, anekdotnya orang Makasar ke pasar setelah sholat dulu,karena dagingnya telah terbeli,maka orang Makasar membeli hati,usus, dan jeroannya.Maka dibuatlah apa yang dinamakan Çoto Makasar. Nah, orang asli sana sendiri ke pasarnya siangan,jadilah tinggal tulang-tulang sapi, maka dibuat makanan yang kebayakan berisi bahan ini yang dinamakan Kaledo’.

Selain itu ada lagi makanan khas sana yaitu bawang goreng, bawang yang digoreng terasa renyah sekali, sempat beli dengan paket kecil-kecil seharga @ Rp. 5000. Bawang ini bentuknya seperti bawang merah, tapi ini khusus untuk digoreng.

Jalan-jalan seharian memang melelahkan juga, tapi gak apalah yang penting tujuan utama telah terselesaikan, akhirnya setelah akhir pekan pertengahan Februari, urusan juga dirasa cukup, kuputuskan untuk segera balik ke Jogja, dengan memajukan jadwal pesawat, sempet tarik ulur juga dengan agen orang Manado itu, karena kesalahan dia sendiri dalam membaca jadwalku.

March 24, 2006

Menikmati Kota Palu (1)

Filed under: Perjalanan

Bulan kemarin mungkin gak kebayang kalo aku bisa nyampe Pulau Sulawesi (Celebes), apalagi ke kota yang dibilang orang kota yang rusuh, panas, dan seabrek sebutan lainnya.Tanggal 3 Februari setelah ditelpon Pak Tri, alumni UGM juga, yang mengharuskan aku segera ke Palu pada hari itu juga (karena sabtunya merupakan acaranya), dengan berpikir cepat karena ini merupakan kesempatan langka (apa sih keperluannya???ssst….edisi berikutnya jawabannya). Dari Jogja aku harus cross cek pesawat yang bisa nyampe ke ibukota Sulawasi Tengah itu . Akhirnya setelah mondar-mandir di Adisucipto, kuperoleh Batavia, berangkat jam 12.00 ke Surabaya, dan Lion jam 17.00 dari Juanda. Dengan bekal seadanya akhirnya kutinggalkan Jogja tanpa sempat bilang ke ortu. Dengan tekat membara sampe juga di Surabaya jam 13.00, lumayan lama sih nunggu berangkat pesawat berikutnya.

Sambil menunggu jam, karena kelaperan..maklum paginya gak sarapan, mampir ke sebuah ”warung soto” yang ada di airport. Enak juga soto Lamongan yang satu porsi seharga 18 ribu..sambil menunggu check in obrol ma ibu-ibu Madura yang mo ke Banjarmasin yang dianter putri kesayangannya. Gak kerasa jam 16.00 aku akhirnya antre check in, lumayan banyak juga penumpang yang kesana.

Peta Sulawesi dan Kota Palu

Setelah masuk, ternyata keberangkatan mundur,karena hujan mengguyur Juanda (selang 2 hari denger berita kalo air sampe masuk ke komplek pertokoan). Ya gak papalah…..sambil menikmati sebotol Aqua yang kubawa dan obrol ma bapak2 dari Solo. Tepat pukul 18.30, akhirnya kita diperbolehkan naik pesawat, dan setelah beberapa saat aku dah berada di angkasa (maklum hari itu penerbanganku perdana…).Pukul 23.00 WITA, tiba juga di Bandara Mutiara Palu, setelah beberapa langkah terdengar namaku dipanggil…..he..he…lumayan ternyata dah ada yang jemput. Aku di jemput sama Irman dan Irham (kenalan saat itu juga, mereka Adiknya Pak Jastal- ini orang yang ada kaitan dengan keperluanku). Sambil diboncengin motor kuliat suasan Kota Palu malam itu, lumayan sepi maklum dah jam 11 malem. Dengan tubuh capek dan BB, sampe juga di rumah Pak Jastal tempat aku inap selama 9 hari,..bruk…akhirnya bisa berbaring tubuh ini…sebelum tidur sempat mikir juga kok bisa-bisanya aku nyampe sini……sempat netes air mata juga….sih….gak kebayang sebelumnya…..hari itu dapat info trus bisa cabut ke kota ini….berpikir cuma 30 menit sebelum kuputuskan berangkat.

Paginya….ternyata di situ telah datang temen juga dari UGM, si Anis anak Biologi, yang asalnya dari Boyolali, then….kenalan juga ma Pak Jastal dan Ibu. Setelah beberapa saat prepare , kita berangkat bareng-bareng ke ”acaranya”. Acaranya sih Cuma sebentar sampe jam 12 siang, tapi seminggu berikutnya masih ada acara lagi…”Ya, Allah, padahal perbekalanku sebenarnya cuma untuk beberapa hari saja,…tapi gak papalah, cowokkan fleksibel”, belaku…Sambil menunggu sabtu berikutnya hari-hari disana begitu lama banget, maklum baru sekali jauh dari lingkungan biasanya dan yang boring gak napa-napa.

Mencoba Adaptasi

Aku tinggal di lingkungan perumahan yang kebanyakan orang-orang Bugis (Sulawesi Selatan). Sambil mencoba bergaul dengan lingkungan keluarga pak Jastal dan juga sebelahnya, maklum 9 hari lumayan lama juga. Ada istilah yang beda dalam bahasa Bugis, misalnya kalo penyebutan ”kamu”, mereka malah menyebut ”kita”. Contoh : ” Kamu mau pergi kemana ?”, kalo orang-orang Bugis menyebutnya ” Kita mau kemana ?”
Contoh lain, penyebutan ”kita” menjadi ”torang”, dan ”mereka” menjadi ”dorang”.

Penduduk di kota ini relatif heterogen juga. Orang-orang dari Manado, Bugis, Jawa, Bali bersatu dengan penduduk Khaili, suku asli Palu. Kalau waktu sore kebanykan pada main takraw, ketika aku ditawari main sempet menendang bolanya tok, habis itu gak bisa napa-napa lagi. Ketika main-main keluar rumah, di sebelah kanan depan rumah, aku terkejut dengan sekelompok orang yang memperbaiki mobil. Terkejutnya dengan mobil Honda karena berplat nomor AB, lha inikan mobil Jogja, kok sampe disini juga..pikirku…? Akhirnya aku kenalan dengan mereka. Sang pemilik adalah Pak Imam, seorang anggota Polda Sulteng yang aslinya orang Kebumen, sudah mengabdi selama 8 tahun disana, sedangkan yang lainnya adalah perantoan juga, rata-rata juga dari Jawa. Akhirnya obrol deh dengan bahasa kebangsaan Jawa, kayak serasa di kampung sendiri.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main